Celotehan di Rumah Tak Sehat - 2

Obat tobat
Apa ini, setiap sesudah makan saya harus mencicipinya.
Bukan pil penambah berat badan, bukan juga pil penambah tinggi badan. Tapi ini pil penenang, penenang rasa gundah gulana.
Setiap hendak meminumnya gue harus merasakan kegalauan yang sangat terlebih dahulu.
Berkali-kali dalam sehari. Entahlah. Mungkin setiap kali merasakannya, tubuh gue meronta-ronta.
Apa rasanya? Maniskah? Pahitkah? Bukan itu yang gue rasa, melainkan sepi!
Pil beraneka warna itu tak ada gunanya. Mau warna pelangi atau semenarik apapun, tetap tak akan mengubah rasanya.

Terkurung disini, apa yang bisa diperbuat disini? Untuk apa disini?
Terbaring lemah dan tanpa arah.
Gue? Kenapa gue? Salah apa gue?
Matahari terbit dan terbenam begitu saja, tanpa memperdulikan manusia yang terkapar di bawah cahayanya, berbalut kumpulan batu-bata yang biasa disebut gedung.
Terlindung dan kelihatannya aman. Namun, kenyataannya sebaliknya.

Ingin cepat pulang untuk mencari kembali kasih sayang yang telah lama hilang.

Catatan:
Pada 2 tulisan terakhir saya yang bertajuk "Celotehan di Rumah Tak Sehat" itu memang terkesan bersifat keluhan, tak menerima kenyataan, dan lain sejenisnya. Namun, sayangnya, saya tidak sedang "mengeluh". Saya hanya sedang mencoba menggali apa sih arti kegelisahan itu sendiri.

Menurut salah satu stand up comedian ternama, "Raditya Dika", komedi itu timbul dari sebuah kegelisahan. Semenjak mendengar kalimat tersebut saya berpikir bahwa hal-hal yang menggelisahkan hati kita itu dapat juga menggelitik hati kita sendiri, atau bahkan hati orang lain. Hal sederhana yang (mungkin) tak terpikirkan oleh kita bukan.

Mungkin saja selain unsur komedi masih banyak lagi unsur-unsur lainnya yang timbul dari sebuah kegelisahan. Oleh karena itu, bergelisahlah dan bercelotehlah!


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jenis - Jenis Tanggung Jawab

Apa itu 'softskill' dan 'hardskill' ???

Keadilan dan Kejujuran